PEMANFAATAN KULIT DAN BONGGGOL NANAS UNTUK MEMPERCEPAT PROSES PEMBUATAN TEMPE

Hasil pengamatan di lapangan, menunjukkan bahwa nanas awalnya hanya sebagai tanaman pekarangan saja. Masyarakat memanfaatkan nanas hanya sebatas tanaman konsumsi saja, tidak pernah mencoba mengolahnya lebih lanjut. Hal ini bisa dimaklumi karena pengetahuan mereka masih rendah dan masih belum mengetahui manfaat yang dapat diambil dari tanaman nanas.

       Seiring dengan perkembangan zaman dan IPTEK, masyarakatpun sudah mulai banyak yang mengetahui manfaat dari tanaman nanas. Di desa Karang Jambe, kecamatan Jun Rejo merupakan pusat (central) produksi tempe terbesar se-kota Batu. Sekitar 70% penduduknya bahkan lebih menggeluti usaha produksi tempe. Melihat realita yang ada itulah kemudian timbul keinginan untuk melakukan program kewirausahaan ini. Berdasarkan uraian di atas tujuan program ini adalah mendeskripsikan cara memanfaatkan kulit dan bonggol nanas untuk mempercepat proses pembuatan tempe, dan mendeskripsikan bahwa pemanfaatan kulit dan bonggol nanas dapat meningkatkan laba pengusaha tempe. Metode pelaksanaan progrm ini adalah tidak jauh berbeda dengan pembuatan tempe pada umumnya, namun untuk mempercepat proses pembuatan tempe digunakan kulit dan bonggol nanas. Tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut: (1) Siapkan kedelai, kemudian bersihkan. Setelah itu rebus hingga setengah matang (kurang lebih setengah jam); (2) Setelah kedelai direbus, lalu giling kedelai, agar kedelai terpisah dengan kulit arinya. Setelah itu, remas-remas kedelai hingga ”keset” dan kemudian bersihkan kedelai dengan air bersih; (3) Selanjutnya rendam kedelai dengan air yang sudah dicampurkan kulit dan bonggol nanas yang telah diblender; (4) Setelah kedelai direndam kemudian rebus sampai matang (kurang lebih selama 1 jam). Lalu dinginkan kedelai sebelum diragikan; (5) Setelah kedelai benar-benar dingin, selanjutnya taburi kedelai dengan ragi, aduk hingga rata; (6) Masukkan kedelai yang telah diragi kedalam plastik yang terdapat ditempat cetakan. Tutup plastik tersebut, beri lubang-lubang kecil pada plastik untuk sirkulasi udara. Diamkan hingga 48 jam. (7) Tempe siap dipasarkan. Hasil pelaksanaan program menunjukkan bahwa dengan penggunaan kulit dan bonggol nanas, ternyata proses pembuatan tempe menjadi lebih cepat 1 hari, yang semula membutuhkan waktu 3 hari menjadi 2 hari. Cepatnya proses pembuatan tempe tersebut akan semakin mempercepat proses panen tempe, sehingga hasilnya dapat segera dipasarkan. Dengan demikian maka modal pengusaha tempe cepat kembali. Dan lebih dari itu, untuk hari-hari berikutnya setelah produksi pertama keuntungan yang diperoleh pengusaha tempe menjadi berlipat-lipat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan kulit dan bonggol nanas dapat 
mempercepat proses pembuatan tempe dan akhirnya dapat meningkatkan laba dari pengusaha tempe. 



Kata Kunci: Kulit dan Bonggol Nanas, Tempe, Laba 

Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus. Memiliki nama daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera). Dalam bahasa Inggris disebut pineapple dan orang-orang Spanyol menyebutnya pina. Nanas berasal dari Brasilia (Amerika Selatan) yang telah didomestikasi di sana sebelum masa Colombus. Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan Semenanjung Malaysia, masuk ke Indonesia pada abad ke-15. (file:///F:/internet%20data/Nenas%20-Buah-buah- 
%20Warintek%20 %20Merintis%20Bisnis%20-%20Progressio.htm). 

Di Indonesia pada mulanya hanya sebagai tanaman pekarangan dan meluas dikebunkan di lahan kering (tegalan) di seluruh wilayah nusantara. Orang Indonesia pada zaman dahulu mengenal nanas hanya untuk dikonsumsi saja dan masih belum terpikirkan oleh masyarakat Indonesia untuk mengolahnya lebih lanjut tanaman tersebut. Hal ini dapat dimaklumi karena pengetahuan mereka masih rendah dan masih belum mengetahui manfaat yang dapat diambil dari tanaman nanas. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakatpun mengetahui bahwa tanaman nanas juga dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses fermentasi dalam pembuatan tempe. 

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, tempe merupakan makanan, dibuat dari ragi. Tempe memiliki kandungan vitamin B12 yang sangat tinggi, antara 3,9-5 ug/100 gr. Selain vitamin B12, tempe juga mengandung vitamin B lainnya, yaitu Niacin dan Riboflavin (vitamin B2). Keistimewaan lainnya, tempe dapat mencukupi keperluan kalsium sebanyak 20% dan zat besi sebanyak 56% dari standar gizi yang dianjurkan. Tempe juga mengandung protein yang tinggi (8,3%), sedangkan kandungan hidrat arangnya rendah. Hal ini penting bagi yang sedang melakukan diet. Kandungan protein dalam tempe dapat disejajarkan dengan daging. Dengan demikian, tempe dapat menggantikan daging dalam susunan makanan seimbang. Apalagi sekarang, saat harga daging sangat mahal. Karena tidak mengandung gula dan pati, tempe baik juga bagi penderita diabetes. Penelitian CR Sirtori dari ”Medical Research Centre” Milan Italia dan penelitian Kowij dan Hudges, tempe ternyata dapat menurunkan kadar kolesterol darah pada tingkat yang normal. Hal ini berarti mencegah terjadinya aterosklerosis (perubahan patologis pada pembuluh darah yang disebabkan oleh tingginya kadar kolesterol dalam darah), sekaligus mengurangi risiko terjadinya penyakit jantung. Maka menu makanannya banyak mengandung kolesterol seperti susu, telur, dan daging, perlu dibarengi dengan mengonsumsi tempe. 

Dari fakta-fakta dilapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan nanas banyak dimanfaatkan dilingkungan rumah tangga. Di bidang Industri, nanas digunakan dalam pembuatan sirup, essence minuman fermentasi, selai dan kripik. Selama ini pemanfaatan nanas terbatas pada daging buahnya saja, sementara kulit dan bonggolnya dibuang. Padahal, kulit dan bonggol nanas tersebut masih memiliki manfaat. Salah satu manfaat tersebut adalah kemampuannya untuk mempercepat proses fermentasi tempe. Semakin cepatnya proses fermentasi 
tersebut maka proses produksinya pun akan cepat pula. Dengan cepatnya proses produksi tersebut maka upaya untuk meningkatkan laba bagi produsen tempe akan dapat diusahakan. 

Di desa Karang Jambe, kecamatan Jun Rejo merupakan pusat (central) produksi tempe terbesar se-kota Batu. Di daerah ini sekitar 70% penduduknya bahkan lebih menggeluti usaha produksi tempe. Hasil dari produksi tempe penduduk kota Batu selain dipasarkan di pasar-pasar terdekat juga sampai keluar daerah kota Batu. Dengan demikian sangatlah realistis jika program ini diterapkan di daerah ini karena dengan diterapkannya program ini maka nantinya diharapkan dapat membantu para pengusaha tempe dalam mempercepat proses produksi tempe mereka. Dengan demikian maka upaya untuk meningkatkan laba bagi produsen tempe akan dapat diusahakan Selain itu keuntungan yang dapat diperoleh dengan melakukan program ini bagi pengusaha tempe yang ada di daerah kota Batu ini yaitu dapat memicu persaingan yang sehat antar pengusaha tempe untuk mengembangkan usaha mereka. Cepatnya proses produksi tempe dapat memicu cepatnya sirkulasi uang pengusaha tempe sehingga modal dari pengusaha tempe dapat cepat kembali dengan laba yang memuaskan. Keuntungan lain yang dapat diraih oleh pengusaha tempe dengan melakukan program ini yaitu meski pengusaha tempe memerlukan biaya tambahan untuk mendapatkan kulit dan bonggol nanas namun hal itu dapat diminimalisir dengan melakukan kerjasama dengan pedagang nanas atau penjual nanas. Dengan demikian keuntungan yang diperoleh pengusaha tempe jauh lebih besar dari pada biaya yang dikeluarkan sehingga pengusaha tempe akan dapat meningkatkan laba dari usaha yang digelutinya. 



METODE PENDEKATAN 

Metode pelaksanaan program ini adalah tidak jauh berbeda dengan pembuatan tempe pada umumnya, namun untuk mempercepat proses pembuatan tempe digunakan kulit dan bonggol nanas. Tahapan-tahapan pembuatan tempe adalah sebagai berikut: (1) Siapkan kedelai, kemudian bersihkan. Setelah itu rebus hingga setengah matang; (2) Setelah kedelai direbus, lalu giling kedelai, agar kedelai terpisah dengan kulit arinya. Setelah itu, remas-remas kedelai hingga 

”keset” dan kemudian bersihkan kedelai dengan air bersih; (3) Selanjutnya rendam kedelai sebelum direbus kembali. Pada tahapan inilah campurkan kulit dan bonggol nanas yang telah diblender dengan rendaman kedelai tersebut; (4) Setelah kedelai direndam kemudian rebus selama 1 jam. Lalu dinginkan kedelai sebelum diragikan; (5) Setelah kedelai benar-benar dingin, selanjutnya taburi kedelai dengan ragi, aduk hingga rata; (6) Masukkan kedelai yang telah diragi kedalam plastik yang terdapat ditempat cetakan. Tutup plastik tersebut, beri lubang-lubang kecil pada plastik untuk sirkulasi udara. Diamkan hingga 48 jam. (7) Tempe siap dipasarkan. Waktu yang kami butuhkan untuk melaksanakan program ini sekitar empat bulan. Kemudian, pemanfaatan kulit dan bonggol nanas ini diharapkan nanti akan mempercepat proses fermentasi dalam pembuatan tempe tersebut. Pemanfaatan kulit dan bonggol nanas ini berprinsip pada kemampuan kulit dan bonggol nanas untuk membuat suasana asam yang pas bagi pertumbuhan jamur tempe. Suasana asam atau pH yang pas bagi pertumbuhan jamur tempe sendiri berkisar antara 4 sampai 5. Karena untuk mewujudkan suasana asam itu adalah saat perendaman, maka penggunaan kulit dan bonggol nanas juga pada 
tahap tersebut. Sebelum penggunaan, kulit dan bonggol nanas terlebih dahulu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: (1) Kulit dan bonggol nanas tersebut diiris-iris kecil; (2) Kemudian ditambah air; (3) Setelah ditambahkan air lalu kemudian diblender. Setiap 300 gram air ditambahkan ekstrak kulit atau bonggol sebanyak 150 gram, atau perbandingannya adalah 2:1. Dari perbandingan yang telah dilakukan tersebut, hasilnya setelah diukur pH untuk ekstrak bonggol 

Perendaman bonggol nanas

Perendaman kedelai dengan penambahan ekstrak kulit atau bonggol nanas terbukti lebih mampu meningkatkan keasaman. Bila direndam dengan air biasa seperti yang dilakukan banyak pengrajin tempe sekarang, pH hanya turun hingga 6,5. Karena keasaman tersebut tidak pas dengan kondisi yang dibutuhkan jamur tempe, maka fermentasi pun berlangsung lama. Dengan penambahan ekstrak kulit atau bonggol nanas, fermentasi tempe berlangsung lebih singkat. Pada penambahan ekstrak kulit dengan perbandingan 1:1, waktu fermentasi dapat dipersingkat menjadi 42 jam. Sementara, dengan perbandingan 3:1, waktu fermentasi yang dibutuhkan menjadi 45 jam. Penambahan ekstrak bonggol memberi pengaruh lebih hebat lagi. Dengan perbandingan 1:1, waktu fermentasi berkurang hingga 35 jam. Sementara dengan perbandingan 3:1, pengurangan dapat mencapai 37 jam. Dengan semakin cepatnya proses fermentasi tersebut maka produksinya pun akan semakin cepat sehingga produsen akan dapat menambah kuantitas produksinya. Dengan demikian maka hal tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan laba produksinya, selain itu laba produsen juga akan diperoleh dengan adanya kerjasama dengan petani nanas maupun pedagang nanas. Dengan melakukan kerjasama ini maka pengusaha tempe dapat menekan biaya untuk memperoleh kulit dan bonggol nanas. Sehingga dengan demikian hal tersebut akan dapat meningkatkan laba dari pengusaha itu sendiri karena dapat mengirit biaya/pengeluaran dalam proses produksi. 
Waktu yang dibutuhkan pelaksana untuk melaksanakan program ini sekitar empat bulan, terhitung sejak proposal diterima. Tempat untuk melaksanakan program ini pelaksana mengambil Desa Beji, Karang Jambe Kecamatan Jun Rejo Batu, yang merupakan pusat produksi tempe terbesar se- Kota Batu. 



HASIL 

Hasil kegiatan ini yaitu dengan memanfaatkan kulit dan bonggol nanas, ternyata proses pembuatan tempe menjadi lebih cepat. Semula dalam membuat tempe biasanya membutuhkan waktu 3 hari, namun dengan menggunakan kulit dan bonggol nanas proses pembuatan tempe menjadi lebih cepat yaitu hanya membutuhkan waktu 2 hari saja. Misalnya, memproduksi tempe pada hari senin pagi, maka tempe akan matang pada hari selasa malam sehingga pada hari rabu pagi pengusaha tempe dapat memanen tempe dan langsung memasarkannya. Dengan demikian dapat mengefisiensi waktu dalam proses pembuatan tempe tersebut. Meskipun dengan menggunakan kulit dan bonggol nanas, tempe yang telah dihasilkan tidak mengalami perubahan baik rasa maupun warna. Sehingga dengan demikian tidak perlu khawatir tempe yang telah dihasilkan tidak akan laku dipasaran. Dari perhitungan cash flow terlihat 
bahwa untuk tempe biasa memperoleh keuntungan yang lebih banyak, namun sebenarnya tidak demikian.
Keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan dapat dilihat pada tabel cash flow dibawah ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar